Assalamualaikum WR.WB "Salam Damai"

Kamis, 29 November 2012

Antara Jodoh dan Kedewaasaan Kita

Antara Jodoh dan Kedewaasaan Kita
Jodoh dan Kedewasaan Kita 
 
Jodoh adalah problema serius, terutama bagi para muslimah. Kemana pun mereka melangkah,  pertanyaan-pertanyaan "kreatif" tiada henti membayangi. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang  pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil?

Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita. Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu  bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan  rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius  tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala  sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi 'bagian  masalah', namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri. 
 
Di sini orang berlomba mengajukan "standardisasi" calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.  
 
Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, "Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?" Memang, ada juga jawaban lain, "Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih saja." Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal.  
 
Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serbaunggul). Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah. Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama ini.  
 
Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.  
 
Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah, bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang India, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga. 
 
Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan? 
 
Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya. Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun.  
 
Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu? "Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya." (QS Al Baqarah, 286). Di balik fenomena "telat nikah" sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah SWT. 
 
Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada.  
 
Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku?  
 
Wallahu a'lam bisshawaab.

Ikhwan Sejati

Ikhwan Sejati
Ikhwan Sejati

Seorang Remaja Pria bertanya pada Ibunya ibu,ceritakan padaku tentang ikhwan sejati sang ibu tersenyum dan menjawab :
- Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar tetapi dari KASIH SAYANGnya pada orang sekitar
- Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang tetapi dari KELEMBUTANnya dalam mengatakan kebenaran
- Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat disekitarnya tetapi dari SIKAP BERSAHABATNYA pada generasi muda bangsa
- Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati ditempat bekerjanya tetapi bagaimana dia DIHORMATI didalam rumahnya
- Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan tetapi dari SIKAP BIJAKNYA memahami persoalan
- Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang tetapi dari HATINYA DIBALIK ITU.
- Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memujanya tetapi dari KOMITMENT terhadap akhwat yang dicintainya
- Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan tetapi dari TABAHNYA ia menjalani liku-liku kehidupan
- Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Qur'an tetapi dari KONSISTENSI DIA dalam menjalankan apa yang ia baca

Setelah itu ia kembali bertanya "Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu ibu?" Sang ibu memberinya buku dan berkata "Pelajari tentang dia", ia pun mengambil itu "MUHAMMAD" judul buku yang tertulis dibuku itu.

Puisi Cinta Sejati Karena Illahi

Puisi Cinta Sejati Karena Illahi
Ku ingin mencitaimu karena Allah
Tapi hati ini susahlah kuajak

Kemilau kemuning senja selalu menanti cinta abadi 
Dalam jalan illahi kutelusuri jalan

Mengapa hati ini nan galau sungguh
Menanti uluran kasih mu

Wahai saudariku
Bila kita berjalan seiring dalam jalan illahi
Akan kusunting engkau dengan sepucuk puisi
Agar tumbuh cinta sejati
Menuji ridha illahi

Senin, 26 November 2012

Dalam 7 Hari Yang Telah Lalu Dan Mungkin Akan Terulang

Dalam 7 Hari Yang Telah Lalu Dan Mungkin Akan Terulang
Hari per-1, tahajudku tetinggal
Dan aku begitu sibuk akan duniaku
Hingga zuhurku, kuselesaikan saat ashar mulai memanggil
Dan sorenya kulewati saja masjid yang mengumandangkan azan magrib
Dengan niat kulakukan bersama isya itupun terlaksana setelah acara tv selesai

Hari ke-2, tahajudku tertinggal lagi
Dan hal yang sama aku lakukan sebagaimana hari pertama

Hari ke-3 aku lalai lagi akan tahujudku
Temanku memberi hadiah novel best seller yang lebih dr 200 hlmn
Dalam waktu tidak 1 hari aku telah selesai membacanya
Tapi... enggan sekali aku membaca Al-qur'an walau cuma 1 juzz
Al-qur'an yg 114 surat, hanya 1,2 surat yang kuhapal itupun dengan terbata-bata
Tapi... ketika temanku bertanya ttg novel tadi betapa mudah dan lancarnya aku menceritakan

Hari ke-4 kembali aku lalai lagi akan tahajudku
Sorenya aku datang ke selatan Jakarta dengan niat mengaji
Tapi kubiarkan ustazdku yang sedang mengajarkan kebaikan
Kubiarkan ustadzku yang sedang mengajarkan lebih luas tentang agamaku
Aku lebih suka mencari bahan obrolan dengan teman yg ada disampig kiri & kananku
Padahal bada magrib tadi betapa sulitnya aku merangkai
Kata-kata untuk kupanjatkan saat berdoa

Hari ke-5 kembali aku lupa akan tahajudku
Kupilih shaf paling belakang dan aku mengeluh saat imam sholat jum'at kelamaan bacaannya
Padahal betapa dekat jaraknya aku dengan televisi dan betapa nikmat,
serunya saat perpanjangan waktu sepak bola favoritku tadi malam

Hari ke-6 aku semakin lupa akan tahajudku
Kuhabiskan waktu di mall & bioskop bersama teman2ku
Demi memuaskan nafsu mata & perutku sampai puluhan ribu tak terasa keluar
Aku lupa .. waktu diperempatan lampu merah tadi
Saat wanita tua mengetuk kaca mobilku
Hanya uang dua ratus rupiah kuberikan itupun tanpa menoleh

Hari ke-7 bukan hanya tahajudku tapi shubuhkupun tertinggal
Aku bermalas2an ditempat tidurku menghabiskan waktu
Selang beberapa saat dihari ke-7 itu juga
Aku tersentak kaget mendengar khabar temanku kini
Telah terbungkus kain kafan padahal baru tadi malam aku bersamanya
& ¾ malam tadi dia dengan misscallnya mengingat aku ttg tahajud

Kematian.............. 
Kenapa aku baru gemetar mendengarnya?
Padahal dari dulu sayap2nya selalu mengelilingiku dan
Dia bisa hinggap kapanpun dia mau

¼ abad lebih aku lalai....
Dari hari ke hari, bulan dan tahun
Yang wajib jarang aku lakukan apalagi yang sunnah
Kurang mensyukuri walaupun KAU tak pernah meminta
Berkata kuno akan nasehat ke-2 orang tuaku
Padahal keringat & airmatanya telah terlanjur menetes demi aku

Tuhan............
Andai ini merupakan satu titik hidayah
Walaupun imanku belum seujung kuku hitam
Aku hanya ingin detik ini hingga nafasku yang saat nanti tersisa
Tahajud dan sholatku meninggalkan bekas
Saat aku melipat sajadahku.....
Amin....

Bila di dunia ada syurga,
maka itulah kehidupan rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah.
Bila di dunia ada neraka,
maka itulah kehidupan rumah tangga yang tak selaras & jauh dari agama.

Bahagialah mereka yang diamnya berfikir,
Memandangnya mengambil pelajaran,
mendengarnya mengambil hikmah, dan
dalam tindakannya mengenal indahnya ajaran Islam.